26.4 C
Bandung
Rabu, Sep 23, 2026
Info Burinyay
Kab. BandungPendidikan

434 Siswa SD Kabupaten Bandung Adu Kemampuan di FTBI 2026, Bahasa Sunda Menggema

Siswi peserta FTBI Kabupaten Bandung 2026 tampil nembang pupuh dalam lomba bahasa Sunda
Siswi peserta Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kabupaten Bandung 2026 menampilkan kemampuan nembang pupuh di hadapan juri dan peserta lainnya. Foto:Info Burinyay/Lee

Bojongsoang, Info Burinyay — Sebanyak 434 siswa Sekolah Dasar (SD) dari seluruh kecamatan di Kabupaten Bandung mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kabupaten Bandung 2026.

Kegiatan tersebut berlangsung di Transmart Bojongsoang serta SD Negeri Cipagalo 1, 2, dan 3, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Rabu (23/9/2026).

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, H. Yusup Salim, S.Pd.I., M.Pd., membuka langsung pelaksanaan FTBI jenjang SD tersebut.

Para peserta merupakan perwakilan dari 30 kecamatan se-Kabupaten Bandung. Mereka mengikuti berbagai perlombaan yang mengangkat bahasa, sastra, dan budaya Sunda.

FTBI jenjang SD tahun ini menghadirkan tujuh mata lomba. Cabangnya meliputi Ngadongeng, Biantara, Maca Sajak, Maca jeung Nulis Aksara Sunda, Ngarang Carita Pondok, Nembang Pupuh, dan Ngabodor Sorangan atau Borangan.

Menurut Yusup Salim, FTBI tidak hanya menghadirkan kompetisi antarsiswa. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses pendidikan untuk menjaga keberadaan bahasa ibu di kalangan generasi muda.

“Target yang paling utama bahwa kegiatan FTBI ini bukan hanya sekadar perlombaan. Di dalamnya adalah pendidikan dan unsur ngamumule bahasa,” ujar Yusup.

Ia menjelaskan, penggunaan bahasa Sunda memiliki kaitan dengan pengenalan jati diri peserta didik. Karena itu, kemampuan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan komunikasi sehari-hari.

Yusup menyebut ungkapan bahasa téh cicirén bangsa sebagai salah satu dasar penting dalam memahami tujuan kegiatan tersebut.

“Ketika anak mampu mengungkapkan kalimat dengan bahasa Sunda, dengan bahasa ibunya, bukan sekadar dia sedang berkomunikasi. Tapi dia mengenal dirinya, mengenal siapa dia, dari mana dia asalnya,” katanya.

Selain itu, Yusup berharap FTBI mampu memperkuat karakter peserta didik sesuai dengan nilai Pancawaluya. Nilai tersebut mencakup cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.

“Harapannya kegiatan FTBI ini bukan hanya sekadar perlombaan, tapi ada kegiatan ngamumule bahasa dan mengenal jati dirinya,” ucapnya.

Selanjutnya, Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung juga mendorong peserta terbaik untuk mengikuti tahapan kompetisi pada tingkat yang lebih tinggi.

Yusup mengatakan proses pembinaan tidak berhenti pada pelaksanaan tingkat kabupaten. Peserta yang terpilih akan mendapat kesempatan mewakili Kabupaten Bandung pada FTBI tingkat Provinsi Jawa Barat.

Sementara itu, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Kiki Taufik Kurnia, S.Pd.I., M.M., memberikan apresiasi terhadap antusiasme para peserta.

Menurut Kiki, pengenalan bahasa ibu sejak usia sekolah menjadi bagian penting dalam menjaga karakter dan budaya daerah.

“Dari anak usia dini kita sudah memberikan pemahaman tentang bahasa ibu,” kata Kiki.

Ia berharap kegiatan tersebut membantu generasi penerus memahami dan menjaga bahasa daerah sebagai bagian dari karakter budaya masyarakat.

Kiki juga meminta seluruh peserta tampil maksimal tanpa menjadikan hasil perlombaan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

“Kepada seluruh peserta yang pada hari ini tampil, semua terbaik. Hanya masalah juara itu nomor dua,” ujarnya.

Ia menambahkan, Dinas Pendidikan berharap muncul peserta yang mampu melanjutkan prestasi hingga jenjang nasional melalui tahapan seleksi yang tersedia.

Di sisi lain, Kepala Seksi Pendidikan Nonformal Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Edi Rismawan, M.Pd., menjelaskan bahwa pihaknya menyiapkan peserta melalui proses pembinaan sebelum festival berlangsung.

Edi mengatakan sekolah masing-masing memberikan bimbingan dan latihan untuk membantu peserta mempersiapkan diri menghadapi berbagai mata lomba.

“Fokus dan manfaat dari bimbingan itu adalah untuk mempersiapkan para peserta dalam penelusuran minat dan bakat,” kata Edi.

Melalui pembinaan tersebut, guru dan pelatih dapat melihat kemampuan siswa dalam berbagai bidang. Misalnya, kemampuan mendongeng, nembang pupuh, bercerita, membaca carpon, hingga cabang bahasa Sunda lainnya.

Karena itu, proses latihan tidak hanya berorientasi pada kemenangan. Pembinaan juga bertujuan menemukan potensi yang sesuai dengan minat setiap peserta.

Edi menambahkan, persiapan yang matang turut memberikan dampak terhadap pembentukan karakter siswa.

“Melalui pembinaan dan latihan, karakter anak dapat tumbuh dengan baik, seperti kedisiplinan, kerja keras, dan pantang menyerah,” tuturnya.

Selain karakter, kegiatan kompetisi juga melatih siswa menerima hasil dengan sikap sportif. Peserta belajar menghadapi kemenangan maupun hasil yang belum sesuai harapan.

Menurut Edi, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam proses perkembangan anak.

“Dengan jiwa sportif, insyaallah apa pun hasilnya nanti, baik juara satu, dua, tiga, harapan, ataupun tidak, mereka akan legowo menerimanya,” katanya.

Di tengah pelaksanaan festival, antusiasme juga terlihat dari para peserta yang mengikuti cabang lomba sesuai minat masing-masing.

Salah satunya Muhamad Satria Putra Irvana dari SDN Gria Bandung Indah. Ia mengaku senang dapat mengikuti kegiatan FTBI dan menyampaikan pengalamannya dalam membuat cerita.

Dalam penampilannya, ia mengangkat cerita berjudul “Buang Runtah” yang mengangkat pesan sederhana tentang sampah.

“Senang, kayak happy. Bikin cerita sih. Jadi judulna Buang Runtah,” ujarnya.

Cerita tersebut mengisahkan seorang anak bernama Rafa yang membuang sampah pada tempatnya. Dalam cerita itu, Rafa kemudian menemukan sampah berukuran besar dan menjualnya.

“Pas dijual, hargana lumayan, dapet dua belas rebu,” katanya.

Kehadiran ratusan siswa dalam FTBI Kabupaten Bandung 2026 menunjukkan ruang pembelajaran bahasa Sunda tetap hadir melalui kegiatan sekolah dan kompetisi budaya.

Melalui festival tersebut, Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung menggabungkan unsur kompetisi, pembinaan bakat, pendidikan karakter, serta pelestarian bahasa daerah.

Selanjutnya, peserta yang memperoleh hasil terbaik akan menjadi bagian dari proses seleksi untuk mewakili Kabupaten Bandung pada FTBI tingkat Provinsi Jawa Barat.

FTBI tidak hanya menjadi panggung bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan berbahasa Sunda. Festival ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, menggunakan, dan menjaga bahasa ibu sebagai bagian dari identitas budaya.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.