Selasa, Sep 22, 2026
Info Burinyay
Opini

Nostalgia Partai Golkar Kabupaten Bandung: Ketika Masa Lalu Mengetuk Pintu Musda

Nostalgia Partai Golkar Kabupaten Bandung menjelang Musda, di tengah perubahan perolehan kursi DPRD 2014–2024
Nostalgia Partai Golkar Kabupaten Bandung kembali mencuat menjelang Musda. Perjalanan politik, dinamika pemilih, serta perubahan perolehan kursi DPRD menjadi bagian penting dalam membaca masa depan Golkar di Kabupaten Bandung. Foto:Info Burinyay/Ilustrasi

Oleh: Sachrial

Ada masa ketika Partai Golkar begitu kuat di Kabupaten Bandung.

Nama Golkar bukan sekadar bagian dari percakapan politik. Pengaruhnya juga hadir dalam perjalanan pemerintahan daerah.

Empat periode kepemimpinan kepala daerah menjadi bagian dari memori politik tersebut.

H. Obar Sobarna memimpin Kabupaten Bandung selama dua periode, 2000–2005 dan 2005–2010.

Setelah itu, H.M. Dadang M. Naser melanjutkan kepemimpinan Kabupaten Bandung selama dua periode.

Pada masa tersebut, Golkar memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan daerah.

Kekuatan elektoralnya juga terlihat melalui perolehan kursi legislatif.

Pileg 2014 memberikan 12 kursi DPRD Kabupaten Bandung kepada Golkar.

Lima tahun kemudian, jumlah tersebut turun menjadi 11 kursi.

Perubahan kembali terjadi pada Pileg 2024. Kali ini, Golkar memperoleh sembilan kursi.

Angka tersebut membawa kita pada sebuah pertanyaan menjelang Musyawarah Daerah Partai Golkar Kabupaten Bandung.

Bisakah kejayaan Golkar kembali?

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun, jawabannya membutuhkan lebih dari sekadar kenangan.

Di sinilah nostalgia politik menemukan ruangnya.

Nostalgia dan Kenangan yang Tidak Hilang

Nostalgia memiliki sejarah panjang.

Istilah tersebut berasal dari bahasa Yunani, yaitu nostos yang berarti pulang dan algos yang berarti rasa sakit.

Dokter Swiss Johannes Hofer memperkenalkan istilah itu pada abad ke-17.

Ketika itu, Hofer menggambarkan nostalgia sebagai kerinduan para tentara terhadap kampung halaman.

Seiring perubahan zaman, maknanya ikut berkembang.

Kerinduan tidak lagi hanya tertuju pada sebuah tempat.

Masa yang telah berlalu juga dapat memunculkan perasaan serupa.

Karena itu, nostalgia kemudian dekat dengan kenangan terhadap pengalaman masa lalu.

Sebuah lagu dapat membawa seseorang kembali pada masa tertentu.

Pertemuan reuni juga menghadirkan pengalaman yang sama.

Dalam suasana tersebut, manusia seolah membuka kembali halaman kehidupan yang pernah mereka jalani.

Tidak mengherankan jika nostalgia sering menjadi jangkar emosional.

Kenangan dapat membantu seseorang menghadapi masa transisi, kesepian, maupun tekanan kehidupan.

Dari perspektif neurologi, penelitian juga mengaitkan nostalgia dengan memori autobiografi, refleksi diri, regulasi emosi, dan penghargaan.

Artinya, nostalgia tidak selalu berarti keinginan untuk kembali.

Kadang, nostalgia justru membantu seseorang memahami perjalanan yang telah dilaluinya.

Lantas, bagaimana jika nostalgia itu masuk ke dalam politik?

Jawabannya mulai terlihat menjelang Musda Partai Golkar Kabupaten Bandung.

Saat Masa Lalu Kembali Dibicarakan

Menjelang Musda, pembicaraan mengenai kejayaan Golkar kembali muncul.

Salah satu pernyataan datang dari Ahmad Hidayat.

Dalam pemberitaan Surat Kabar Online Revolusi pada 30 Agustus, Ahmad menyampaikan pandangannya mengenai Musda Golkar Kabupaten Bandung.

Ia menyebut Musda sebagai tonggak untuk mengembalikan Partai Golkar seperti masa sebelumnya.

Menurut Ahmad, Golkar Kabupaten Bandung pernah menjadi salah satu partai besar.

Karena itu, ia menilai partai membutuhkan sosok yang berkarakter, berdedikasi tinggi, dan mampu merangkul masyarakat.

Pernyataan tersebut menarik jika kita melihat persoalannya secara lebih luas.

Isu mengenai putra daerah memang muncul dalam pembicaraan tersebut.

Namun, bagi penulis, ada persoalan lain yang jauh lebih penting.

Persoalan itu berkaitan dengan kekuatan suara Golkar.

Sederhananya, bagaimana partai ini kembali meningkatkan perolehan suara di Kabupaten Bandung?

Pertanyaan tersebut terasa penting karena peta politik daerah terus berubah.

Pemilih berubah.

Figur baru muncul.

Kekuatan antarpartai juga bergerak.

Dalam kondisi seperti itu, nostalgia tidak cukup hanya menjadi cerita masa lalu.

Kenangan harus berubah menjadi bahan evaluasi.

Empat Periode yang Menjadi Ingatan Politik

Untuk memahami nostalgia tersebut, kita perlu melihat kembali perjalanan politik Kabupaten Bandung.

Nama Obar Sobarna menjadi bagian penting dalam perjalanan itu.

Ia memimpin Kabupaten Bandung selama dua periode, yakni 2000–2005 dan 2005–2010.

Pada masa yang sama, Obar juga memimpin Partai Golkar Kabupaten Bandung.

Setelah era tersebut berakhir, kepemimpinan daerah berlanjut kepada H.M. Dadang M. Naser.

Dadang memimpin Kabupaten Bandung pada periode 2010–2015 dan 2016–2021.

Empat periode tersebut membentuk memori politik yang kuat.

Golkar memiliki pengalaman panjang dalam pemerintahan daerah.

Kekuatan tersebut juga terlihat dalam komposisi parlemen.

Pada Pileg 2014, Golkar memperoleh 12 kursi DPRD Kabupaten Bandung.

Perolehan itu kemudian turun satu kursi pada Pileg 2019.

Lima tahun berikutnya membawa perubahan lebih jauh.

Dalam data yang menjadi dasar tulisan ini, Golkar memperoleh sembilan kursi pada Pileg 2024.

Dari 12 kursi menjadi sembilan kursi dalam satu dekade.

Secara matematis, penurunan tersebut mencapai 25 persen.

Bagi partai yang ingin kembali menjadi kekuatan besar, angka tersebut tentu memiliki arti politik.

Namun, angka itu tidak berdiri sendiri.

Di belakangnya terdapat perubahan perilaku pemilih.

Ada pula persaingan antarfigur dan perubahan kekuatan partai.

Karena itu, membaca angka membutuhkan keberanian untuk melihat kenyataan.

Kabupaten Bandung dan Pemilih yang Terus Bergerak

Kabupaten Bandung memiliki arena elektoral yang sangat besar.

Jumlah pemilih dalam DPT Pemilu 2024 mencapai sekitar 2,65 juta orang.

Jumlah tersebut menciptakan persaingan yang luas bagi setiap partai politik.

Di tengah arena tersebut, pilihan pemilih tidak selalu menetap.

Seorang pemilih dapat mendukung figur tertentu dalam Pilkada.

Pada Pileg, pilihan yang sama belum tentu berpindah kepada partai pengusung figur tersebut.

Fenomena semacam itu dikenal sebagai split-ticket voting.

Perubahan pilihan dapat muncul karena berbagai faktor.

Figur, isu, program, jaringan sosial, hingga kondisi politik lokal dapat memengaruhinya.

Situasi tersebut membuat partai tidak bisa hanya mengandalkan basis tradisional.

Mereka perlu memahami alasan pemilih bertahan.

Pada saat yang sama, mereka juga harus mengetahui alasan pemilih berpindah.

Persoalan itu menjadi semakin menarik ketika kita melihat hasil Pilkada Kabupaten Bandung 2024.

Ketika Figur Memiliki Daya Tarik Berbeda

Dalam Pilkada Kabupaten Bandung 2024, pasangan Sahrul Gunawan dan Gun Gun Gunawan memperoleh 827.240 suara.

Sementara itu, data yang menjadi dasar tulisan ini mencatat suara Partai Golkar pada Pileg 2024 sebesar 316.830 suara.

Jika kedua angka tersebut dibandingkan, muncul selisih 510.410 suara.

Selisih itu tentu menarik.

Namun, kita tidak dapat langsung menyebut seluruhnya sebagai suara Golkar.

Begitu pula, angka tersebut tidak otomatis menunjukkan jumlah floating voters.

Pilkada dan Pileg memiliki karakter kompetisi yang berbeda.

Koalisi berbeda.

Figur berbeda.

Isu kampanye juga dapat berbeda.

Preferensi pemilih pun dapat bergerak mengikuti konteks setiap kontestasi.

Meski begitu, perbedaan tersebut membuka pertanyaan politik yang penting.

Mengapa dukungan terhadap seorang figur bisa jauh lebih besar daripada dukungan terhadap partainya?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu partai memahami kekuatan figur.

Selain itu, partai juga dapat mempelajari hubungan antara popularitas kandidat dan kekuatan organisasi.

Di sinilah data menjadi penting.

Bukan untuk membenarkan sebuah keinginan politik.

Melainkan untuk mengetahui kenyataan yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Jangan Sampai Nostalgia Menjadi Romantisme

Mengingat kejayaan masa lalu memang menyenangkan.

Kenangan tentang kemenangan dapat membangkitkan semangat.

Namun, politik tidak berjalan hanya dengan semangat.

Suara pemilih menentukan kursi.

Kursi kemudian menentukan kekuatan politik di parlemen.

Sementara itu, organisasi menentukan kemampuan partai menjaga hubungan dengan masyarakat.

Karena itu, nostalgia perlu memiliki fungsi yang lebih produktif.

Masa lalu dapat menjadi bahan evaluasi.

Apa yang membuat Golkar kuat pada masa itu?

Bagaimana kader bekerja di tengah masyarakat?

Bagaimana tokoh membangun kepercayaan?

Lalu, mengapa sebagian dukungan kemudian berubah?

Pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengulang formula lama.

Sebab, masyarakat Kabupaten Bandung hari ini berbeda dengan masyarakat dua dekade lalu.

Pemilih muda tumbuh dalam ekosistem informasi yang berbeda.

Media sosial ikut mengubah cara masyarakat mengenal tokoh.

Informasi bergerak jauh lebih cepat.

Isu lokal bahkan dapat menjadi percakapan luas dalam hitungan jam.

Perubahan tersebut membuat partai perlu menyesuaikan cara kerja politiknya.

Rebranding Harus Mengubah Hubungan dengan Masyarakat

Pembicaraan mengenai party rebranding kemudian menjadi relevan.

Namun, rebranding tidak cukup melalui pergantian slogan.

Tampilan komunikasi yang baru juga tidak otomatis menghasilkan kepercayaan.

Perubahan harus menyentuh hubungan partai dengan masyarakat.

Kader perlu hadir ketika warga menghadapi persoalan.

Anggota legislatif harus menunjukkan hasil kerja.

Struktur organisasi juga harus bergerak secara konsisten.

Komunikasi politik perlu menjangkau kelompok pemilih yang semakin beragam.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengenal Golkar melalui sejarah.

Mereka mengenalnya melalui kerja.

Dari pengalaman itulah ekuitas politik dapat tumbuh.

Nama besar memang menjadi modal.

Akan tetapi, nama besar tidak otomatis menghasilkan suara baru.

Kepercayaan harus terus dibangun.

Putra Daerah dan Pertanyaan yang Lebih Besar

Isu putra daerah ikut mewarnai dinamika menjelang Musda.

Penulis tidak menjadikan persoalan tersebut sebagai pusat pembahasan.

Tempat kelahiran seseorang bukan satu-satunya ukuran kepemimpinan.

Kemampuan mengelola organisasi juga memiliki arti penting.

Begitu pula rekam jejak, kapasitas konsolidasi, penerimaan masyarakat, dan kemampuan membangun jaringan politik.

Seorang pemimpin partai juga harus mampu membaca perubahan.

Lebih dari itu, ia perlu menerjemahkan perubahan tersebut menjadi strategi organisasi.

Karena itu, pembahasan calon ketua sebaiknya tidak berhenti pada identitas daerah.

Ada pertanyaan yang lebih besar.

Apa yang mampu dilakukan seorang pemimpin untuk mengembalikan kepercayaan pemilih?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah kerja setelah Musda.

Musda Bukan Garis Akhir

Musda memang menentukan kepemimpinan baru.

Akan tetapi, forum tersebut bukan garis akhir perjalanan politik Golkar Kabupaten Bandung.

Setelah Musda selesai, pekerjaan justru memasuki tahap berikutnya.

Ketua terpilih harus menghadapi realitas elektoral.

Kader harus kembali bekerja.

Struktur organisasi perlu bergerak.

Basis suara lama harus dijaga.

Pada saat bersamaan, kelompok pemilih baru harus dijangkau.

Semua kebutuhan tersebut memerlukan strategi yang terukur.

Data dapat membantu partai membaca wilayah yang mengalami penurunan dukungan.

Pemetaan juga dapat menunjukkan wilayah yang masih memiliki potensi pertumbuhan.

Kekuatan figur pun perlu dianalisis secara objektif.

Dari sana, partai dapat menyusun agenda konsolidasi yang lebih realistis.

Target politik akhirnya tidak berhenti sebagai keinginan.

Ia berubah menjadi pekerjaan yang memiliki ukuran.

Antara Kenangan dan Kenyataan

Ada perbedaan besar antara mengenang kejayaan dan mengembalikan kejayaan.

Mengenang cukup dengan membuka kembali cerita masa lalu.

Sebaliknya, mengembalikan kejayaan membutuhkan kerja politik baru.

Karena itu, nostalgia Partai Golkar Kabupaten Bandung sebaiknya tidak berubah menjadi romantisme.

Kenangan justru dapat menjadi pintu masuk untuk melihat kenyataan.

Dari 12 kursi pada 2014, jumlah tersebut turun menjadi 11 kursi pada 2019.

Kemudian, perolehan itu kembali turun menjadi sembilan kursi pada 2024.

Angka tersebut memberikan pesan yang sulit diabaikan.

Golkar perlu memahami perubahan dukungan masyarakat.

Partai juga perlu mengetahui faktor yang membuat dukungan terhadap figur tidak selalu berubah menjadi suara organisasi.

Tantangan tersebut memang tidak sederhana.

Namun, persoalan itu dapat dikaji melalui data dan kerja politik yang terukur.

Syaratnya jelas.

Semua pihak harus berani menerima fakta, termasuk fakta yang tidak sesuai dengan harapan.

Mendengar Suara Rakyat

Pada akhirnya, nostalgia Golkar Kabupaten Bandung bukan hanya cerita tentang masa lalu.

Ia merupakan cerita mengenai perjalanan sebuah partai.

Di dalamnya terdapat kemenangan.

Ada pula penurunan.

Tokoh-tokoh hadir dalam perjalanan tersebut.

Pemilih juga terus berubah.

Kini, semua pengalaman itu bertemu dalam momentum Musda.

Forum tersebut dapat menjadi ruang evaluasi.

Bukan hanya untuk menentukan siapa yang memimpin.

Lebih penting lagi, Musda dapat menjadi momentum untuk menjawab persoalan elektoral.

Bagaimana meningkatkan suara?

Bagaimana memperkuat organisasi?

Bagaimana merangkul pemilih muda?

Bagaimana mengubah kekuatan figur menjadi kekuatan partai?

Pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban berbasis data.

Kehendak politik juga perlu bertemu dengan kenyataan di lapangan.

Sebab, suara rakyat bukan sekadar angka dalam tabel hasil pemilu.

Di balik angka itu terdapat keputusan jutaan pemilih.

Mereka memiliki alasan masing-masing ketika menentukan pilihan.

Karena itu, partai perlu mendengar sebelum meminta kembali kepercayaan.

Di situlah nostalgia menemukan makna yang lebih dalam.

Masa lalu tidak harus menjadi tempat untuk kembali.

Ia dapat menjadi cermin untuk melihat kesalahan, kekuatan, dan peluang.

Jika kejayaan ingin kembali, harapan harus bertemu realitas.

Jika suara ingin meningkat, strategi harus bertemu data.

Jika kepercayaan ingin tumbuh, partai harus kembali hadir di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, mungkin benar kata Slank.

“Terlalu Manis untuk Dilupakan.”

Kenangan itu boleh tetap hidup.

Namun, masa depan tidak dapat dibangun hanya dengan nostalgia.

Masa depan membutuhkan kerja.

Ia membutuhkan konsolidasi.

Ia membutuhkan figur.

Ia membutuhkan organisasi.

Dan di atas semuanya, membutuhkan keberanian untuk mendengar suara rakyat.

Selamat Bermusda.

Sachrial, praktisi hukum yang sedang belajar mendengar suara rakyat Golkar.

Dari berbagai sumber.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.