26.2 C
Bandung
Sabtu, Sep 26, 2026
Info Burinyay
Kota BandungPendidikan

PAIB Luncurkan D4 Teknologi Radiologi, Jawa Barat Kekurangan 4.676 Radiografer

Direktur PAIB dr. Shiane Hanako Sheba saat peluncuran D4 Teknologi Radiologi Pencitraan di Bandung
Direktur Politeknik Al Islam Bandung, dr. Shiane Hanako Sheba, MKM., MCE. (kanan), saat peluncuran Program Studi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan (TRP) dalam rangkaian Dies Natalis ke-25 PAIB di Bandung, Sabtu (26/9/2026). Foto:Info Burinyay/yk

Bandung, Info Burinyay — Kebutuhan tenaga radiografer di Jawa Barat terus meningkat seiring berkembangnya layanan kesehatan dan bertambahnya fasilitas diagnostik berteknologi tinggi. Di tengah kondisi tersebut, Politeknik Al Islam Bandung (PAIB) meluncurkan Program Studi Sarjana Terapan (D4) Teknologi Radiologi Pencitraan (TRP).

PAIB memperkenalkan program studi tersebut dalam puncak peringatan Dies Natalis ke-25 di Bandung, Sabtu (26/9/2026). Kehadiran D4 TRP menjadi langkah baru PAIB dalam memperkuat pendidikan vokasi kesehatan sekaligus menjawab kebutuhan tenaga profesional di bidang radiologi.

Selain itu, D4 TRP PAIB menjadi satu-satunya program studi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan yang tersedia di Kota Bandung saat ini.

Kebutuhan tersebut terlihat dari data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Dalam talkshow rangkaian Dies Natalis PAIB, Dinkes Jabar mencatat kebutuhan radiografer pada 2026 mencapai 7.744 orang.

Namun, jumlah radiografer yang tersedia saat ini baru mencapai 3.068 orang. Dengan demikian, Jawa Barat masih menghadapi kekurangan sekitar 4.676 radiografer.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dr. R. Vini Adiani Dewi, MMRS, menyampaikan kondisi tersebut menunjukkan masih lebarnya kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga radiografer.

“Tingkat pemenuhan tenaga radiografer di Jabar baru sekitar 39,6 persen, sehingga daerah kita masih mengalami kekurangan hingga 4.676 radiografer,” ujar dr. R. Vini Adiani Dewi.

Kondisi itu semakin penting karena Jawa Barat terus memperkuat layanan kesehatan rujukan. Penambahan rumah sakit serta peningkatan kapasitas fasilitas diagnostik ikut mendorong kebutuhan tenaga dengan kompetensi radiologi yang lebih tinggi.

Selain itu, program penguatan jaringan layanan kesehatan seperti SIHREN atau Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network turut mendorong masuknya berbagai modalitas diagnostik mutakhir ke sejumlah rumah sakit.

Perkembangan tersebut membuat kebutuhan tenaga operator profesional ikut meningkat. Karena itu, institusi pendidikan perlu menyiapkan lulusan yang tidak hanya memahami dasar radiografi, tetapi juga mampu mengoperasikan teknologi pencitraan dengan tingkat kompleksitas lebih tinggi.

Direktur PAIB, dr. Shiane Hanako Sheba, MKM., MCE., menjelaskan bahwa pemerintah menerbitkan izin penyelenggaraan Program Studi D4 TRP PAIB pada 4 Agustus 2026.

Menurutnya, pendirian program studi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari pengembangan institusi di bawah naungan Yayasan Rumah Sakit Islam KSWI Jawa Barat. PAIB juga merespons kebutuhan nyata fasilitas pelayanan kesehatan terhadap tenaga radiografer dengan kompetensi lanjutan.

“Permintaan pasar sangat besar. Ditambah lagi adanya regulasi penjenjangan karier dan standar profesi yang membedakan kompetensi D3 dan D4. Lulusan D4 disiapkan untuk jenjang karier profesional dan fungsional keahlian,” jelas dr. Shiane.

Selanjutnya, kurikulum D4 TRP PAIB mengarahkan mahasiswa pada penguasaan teknologi pencitraan medis tingkat lanjut. Kompetensi tersebut mencakup berbagai modalitas dan prosedur klinis dengan tingkat kompleksitas tinggi.

Mahasiswa nantinya mempelajari antara lain pemeriksaan CT Scan menggunakan media kontras, Magnetic Resonance Imaging (MRI), radioterapi, kedokteran nuklir, hingga Digital Subtraction Angiography (DSA).

Di sisi lain, perkembangan teknologi kesehatan juga mendorong perubahan kompetensi radiografer. Karena itu, PAIB memasukkan kemampuan digital dan pemanfaatan teknologi informasi sebagai bagian penting dalam pengembangan program studi.

Visi D4 TRP PAIB juga mengintegrasikan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI), sistem teleradiologi, serta pengelolaan Picture Archiving and Communication System (PACS) yang mengacu pada standar internasional.

Ketua Pengda Persatuan Ahli Radiografi Indonesia (PARI) Jawa Barat, Drs. Yusuf Iskandar, S.ST., menilai perkembangan teknologi radiologi menuntut tenaga profesional untuk terus meningkatkan kompetensinya.

“Teknologi radiologi melaju sangat pesat. Karena itu radiografer tidak cukup hanya memiliki keahlian teknis mekanis, namun wajib cakap digital, analitis, paham proteksi radiasi, serta mampu berkolaborasi multidisiplin,” tambah Yusuf.

Dengan kebutuhan tersebut, pendidikan radiologi tidak lagi hanya berorientasi pada penguasaan perangkat. Sebaliknya, lulusan juga perlu memahami aspek keselamatan pasien, proteksi radiasi, analisis, teknologi digital, serta kerja sama lintas profesi.

Meskipun izin operasional D4 TRP baru terbit pada Agustus 2026, respons masyarakat terhadap program studi tersebut cukup positif.

PAIB menetapkan target awal sebanyak 15 mahasiswa untuk angkatan pertama. Hingga pelaksanaan Dies Natalis ke-25, sebanyak 14 mahasiswa atau sekitar 90 persen dari target awal telah mendaftarkan diri.

Sementara itu, PAIB masih membuka pendaftaran mahasiswa baru untuk gelombang perdana hingga akhir September 2026.

Antusiasme tersebut menunjukkan kebutuhan pendidikan lanjutan di bidang radiologi mendapat perhatian dari calon mahasiswa. Pada saat yang sama, kebutuhan industri kesehatan juga memberikan ruang pengembangan karier bagi lulusan dengan kompetensi radiologi tingkat lanjut.

Namun, PAIB tidak hanya menempatkan kemampuan teknologi sebagai tujuan pendidikan. Institusi tersebut juga membawa pendekatan pembentukan karakter melalui nilai FAST.

Direktur PAIB dr. Shiane Hanako Sheba menegaskan bahwa institusinya ingin melahirkan tenaga profesional yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus memiliki karakter kuat.

Konsep FAST merujuk pada Fathonah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh. Nilai tersebut menjadi bagian dari upaya PAIB membentuk lulusan yang memiliki kemampuan akademik, profesionalisme, integritas, serta kemampuan berkomunikasi.

Peluncuran D4 TRP berlangsung dalam rangkaian perayaan 25 tahun perjalanan PAIB. Tahun ini, PAIB mengangkat tema “25 Years of Legacy: Building the FAST Generation for the Future.”

Selain Dies Natalis, PAIB juga menyelenggarakan The 1st PAIB International Conference on Fostering Sustainable Synergy Across Health, Education, and Economic (IC-HEES) 2026.

Konferensi internasional perdana tersebut menghadirkan akademisi dan pakar dari sejumlah negara. Narasumber berasal dari Amerika Serikat, Jepang, Thailand, Filipina, dan Australia.

Salah satu tokoh yang hadir dalam agenda tersebut ialah Presiden International Society of Radiographers and Radiological Technologists (ISRRT), Napapong Pongnapang, Ph.D.

Kehadiran para akademisi dan praktisi internasional memperkuat ruang pertukaran pengetahuan antara pendidikan vokasi, layanan kesehatan, dan perkembangan teknologi global.

Dengan demikian, peluncuran D4 TRP tidak hanya menambah pilihan pendidikan vokasi kesehatan di Bandung. Program tersebut juga menjadi bagian dari respons pendidikan terhadap kebutuhan tenaga radiografer yang masih besar di Jawa Barat.

Di tengah kebutuhan 7.744 radiografer dan ketersediaan 3.068 tenaga pada 2026, PAIB mengambil peran melalui pendidikan sarjana terapan yang menggabungkan kompetensi klinis, teknologi digital, AI, teleradiologi, serta pembentukan karakter.

Langkah tersebut sekaligus membuka ruang bagi pengembangan tenaga radiologi yang mampu mengikuti perubahan teknologi kesehatan dan kebutuhan pelayanan medis di masa mendatang.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.