Bandung, Info Burinyay — Peringatan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216 menjadi momentum bagi SMP Negeri 47 Bandung untuk memperkuat kreativitas dan karakter peserta didik.
Pada Jumat, 25 September 2026, sekolah tersebut menggelar kegiatan apresiasi seni dengan melibatkan siswa dari berbagai kelas. Kegiatan itu menjadi ruang bagi peserta didik untuk menampilkan kemampuan sekaligus mengembangkan kepercayaan diri.
SMPN 47 Bandung mengusung semangat HJKB 2026 bertema “Solidarity in Harmony” dalam kegiatan tersebut. Selain penampilan seni, siswa juga mengikuti pembacaan sajak dan aktivitas literasi.
Melalui kegiatan itu, sekolah berupaya membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian akademik. Sekolah juga memberi perhatian pada perkembangan karakter, kreativitas, serta potensi setiap siswa.
Kepala SMPN 47 Bandung, Silpani Nurfatonah, mengatakan sekolah sengaja memberikan ruang bagi siswa untuk mengenali ketertarikan mereka terhadap seni.
“Anak-anak diberikan kesempatan untuk menampilkan apa yang mereka miliki. Ada apresiasi penampilan seni dari masing-masing kelas. Dari sana diharapkan muncul ketertarikan mereka terhadap seni,” ujar Silpani.
Menurut Silpani, apresiasi terhadap karya siswa memiliki peran penting dalam proses pendidikan. Sekolah tidak dapat menjadikan prestasi akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan siswa.
Setiap anak memiliki potensi dan minat yang berbeda. Karena itu, sekolah perlu menyediakan ruang yang memungkinkan siswa berkembang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Selain itu, kegiatan seni juga berkaitan dengan pembiasaan literasi di lingkungan sekolah. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca buku atau memahami teks.
Lebih dari itu, literasi mendorong siswa untuk berani menyampaikan gagasan. Literasi juga melatih kemampuan mengapresiasi karya serta membangun kepekaan terhadap lingkungan sosial dan budaya.

Di sisi lain, SMPN 47 Bandung turut memberi perhatian terhadap berbagai tantangan yang dihadapi remaja. Salah satunya berkaitan dengan perundungan atau bullying di lingkungan pendidikan.
Silpani menilai sekolah perlu membangun budaya interaksi yang sehat untuk mencegah persoalan tersebut. Siswa perlu belajar menghargai teman dan memahami dampak dari setiap tindakan.
Perundungan dapat memengaruhi kondisi emosional anak. Karena itu, sekolah perlu menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung komunikasi antarsiswa.
Selain bullying, penggunaan gawai dan media sosial juga menjadi perhatian sekolah. Penggunaan smartphone secara berlebihan dapat mengganggu konsentrasi belajar dan memengaruhi pola interaksi siswa.
Untuk menghadapi persoalan tersebut, SMPN 47 Bandung menerapkan kebijakan siswa tidak membawa telepon seluler ke sekolah.
Kebijakan tersebut tidak semata-mata bertujuan membatasi penggunaan teknologi. Sekolah menjadikannya sebagai bagian dari strategi untuk menciptakan ruang belajar yang lebih fokus.
“Di sekolah kami anak-anak tidak membawa HP. Jadi mereka lebih fokus belajar dan tidak terganggu media sosial maupun game online. Ini juga untuk menguatkan etika mereka dalam berinteraksi,” kata Silpani.
Dengan kebijakan tersebut, sekolah mendorong siswa membangun interaksi secara langsung. Mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan persoalan melalui tatap muka.
Langkah itu juga menjadi perhatian di tengah meningkatnya pembahasan mengenai kesehatan mental remaja. Data skrining Cek Kesehatan Jiwa (CKG) Pemerintah Kota Bandung menunjukkan kondisi yang perlu mendapat perhatian pada jenjang SMP/MTs sederajat.
Berdasarkan data yang disampaikan, sebanyak 76,46 persen siswa SMP terdeteksi mengalami gejala ansietas ringan. Sementara itu, 7,89 persen siswa terindikasi mengalami ansietas berat.
Data tersebut menunjukkan perlunya perhatian bersama terhadap kondisi emosional peserta didik. Tekanan akademik, hubungan dengan teman sebaya, media sosial, dan kondisi keluarga dapat memengaruhi kesejahteraan emosional anak.
Karena itu, Silpani menilai sekolah tidak dapat bekerja sendiri. Keluarga dan lingkungan sosial juga memiliki peran dalam membangun ketahanan mental siswa.
“Anak-anak perlu merasa aman di sekolah. Mereka harus memiliki ruang untuk berkomunikasi, berekspresi, dan merasa dihargai. Karena itu, pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui pembelajaran di kelas,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, kegiatan seni dan literasi memiliki fungsi yang lebih luas. Keduanya dapat menjadi ruang ekspresi bagi siswa sekaligus membantu membangun rasa percaya diri.
Ketika siswa mendapat kesempatan tampil, mereka belajar menghadapi perhatian orang lain. Ketika karya mereka mendapat apresiasi, mereka juga belajar menghargai proses dan hasil kerja.
Dengan demikian, kegiatan HJKB ke-216 di SMPN 47 Bandung tidak berhenti pada perayaan momentum kota. Sekolah memanfaatkannya sebagai bagian dari proses pendidikan yang mendorong kreativitas, interaksi sosial, literasi, dan pembentukan karakter.
Melalui pendekatan tersebut, SMPN 47 Bandung berupaya menghadirkan ruang tumbuh yang aman dan produktif bagi peserta didik. Sekolah juga terus mendorong keseimbangan antara pencapaian akademik, pengembangan potensi, serta kesiapan siswa menghadapi tantangan sosial dan digital.
Semangat “Solidarity in Harmony” akhirnya mendapat ruang dalam aktivitas siswa. Melalui seni, literasi, dan interaksi langsung, sekolah mendorong peserta didik untuk tumbuh dengan kreativitas sekaligus kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.