Rancaekek, Info Burinyay – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, Drs. H. Ruli Hadiana, S.Sos., M.I.Pol., mendorong seluruh sekolah di Kabupaten Bandung untuk memperkuat budaya pelestarian lingkungan melalui program Sekolah Adiwiyata. Menurutnya, program tersebut tidak sekadar mengejar prestasi, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
Dorongan tersebut disampaikan Ruli Hadiana saat mendampingi kunjungan Tim Verifikasi Lapangan Adiwiyata Nasional Tahun 2026 di SMPN 4 Rancaekek, Jalan Rancakeong, Desa Linggar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jumat (6/11/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Ruli menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program pelestarian lingkungan yang telah berjalan di SMPN 4 Rancaekek. Kunjungan tim verifikasi menjadi momentum untuk melihat secara langsung penerapan berbagai program lingkungan sekaligus mengevaluasi konsistensi warga sekolah dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Alhamdulillah, pada hari ini SMPN 4 Rancaekek, salah satu sekolah yang ada di Kabupaten Bandung, menerima tim verifikasi berkaitan dengan kegiatan Adiwiyata tingkat nasional. Kita berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana verifikasi dan evaluasi terhadap sekolah-sekolah kita di Kabupaten Bandung,” ujar Ruli.
Lebih lanjut, ia berharap hasil verifikasi tersebut dapat memberikan masukan konkret bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan. Dengan demikian, setiap evaluasi tidak hanya berorientasi pada pencapaian penghargaan, tetapi juga mendorong perbaikan berkelanjutan.
Ruli menegaskan, seluruh sekolah perlu menjadikan Adiwiyata sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang sehat, bersih, dan berkelanjutan. Melalui program tersebut, sekolah dapat mengukur sejauh mana pelaksanaan kegiatan pelestarian lingkungan berjalan secara konsisten.
“Karena itu, kami mengimbau seluruh sekolah di Kabupaten Bandung untuk masuk ke dalam program Sekolah Adiwiyata. Dengan begitu, kita bisa melihat dan mengukur sejauh mana kegiatan pelestarian lingkungan telah kita laksanakan,” katanya.
Selain itu, Ruli memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan peserta didik dalam menjalankan program lingkungan. Berdasarkan pengamatannya selama verifikasi, kader lingkungan di SMPN 4 Rancaekek telah menunjukkan keterlibatan aktif. Bahkan, para siswa menjalankan berbagai kegiatan pelestarian lingkungan atas kesadaran sendiri.
Menurutnya, keterlibatan tersebut menjadi indikator penting keberhasilan pendidikan karakter. Sebab, kepedulian terhadap lingkungan harus tumbuh dari kesadaran pribadi, bukan semata-mata karena instruksi guru atau kewajiban mengikuti kegiatan sekolah.
“Ketika berbicara tentang Sekolah Adiwiyata, saya melihat kader-kader lingkungan, khususnya anak didik kita, sudah melakukan kegiatan pelestarian lingkungan dengan sendirinya tanpa harus bergantung pada bantuan pihak lain. Inilah yang kita harapkan,” ungkapnya.
Selanjutnya, Ruli menyoroti persoalan sampah yang masih menjadi tantangan di berbagai wilayah Kabupaten Bandung. Ia menilai sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan pengurangan sampah melalui pemilahan dan pengolahan sejak dari sumbernya.
Oleh karena itu, ia mendorong setiap sekolah membiasakan peserta didik memilah sampah sesuai jenisnya. Langkah tersebut perlu berjalan secara konsisten agar siswa memahami bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama.
Ruli juga mengapresiasi keterlibatan siswa SMPN 4 Rancaekek dalam menerapkan prinsip pemilahan dan pengolahan sampah. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat menjadi contoh nyata bagi lingkungan keluarga maupun masyarakat.
“Masalah sampah terjadi di mana-mana dan harus kita antisipasi. Salah satu langkahnya melalui pemilahan sampah langsung dari sumbernya, termasuk di sekolah. Kita dorong gerakan pilah sampah, olah sampah menjadi berkah. Ini juga dilakukan oleh siswa-siswa kita,” jelasnya.
Lebih jauh, ia berharap para siswa dapat menjadi agent of change atau agen perubahan yang menyebarluaskan kebiasaan positif tersebut. Dengan demikian, budaya memilah dan mengolah sampah tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi juga tumbuh di rumah dan masyarakat.
Ruli menilai pembiasaan sejak dini akan memberikan dampak jangka panjang terhadap upaya pengurangan volume sampah. Apalagi, peserta didik dapat mengajak keluarga dan teman sebaya untuk menerapkan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapannya, anak-anak menjadi agen perubahan bagi rekan-rekannya. Mereka bisa memberikan informasi bahwa pemilahan dan pengolahan sampah perlu dilakukan di sekolah maupun di rumah. Langkah ini penting untuk mengurangi persoalan sampah di Kabupaten Bandung,” tuturnya.
Pada akhirnya, Ruli berharap SMPN 4 Rancaekek dapat memperoleh hasil terbaik dalam verifikasi Adiwiyata Nasional Tahun 2026. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan paling penting terletak pada keberlanjutan budaya peduli lingkungan yang tumbuh di kalangan warga sekolah.
Ia juga berharap capaian tersebut dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Bandung untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan melalui program Adiwiyata.
“Kami mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan SMPN 4 Rancaekek dan sekolah-sekolah lainnya dapat berprestasi dalam Adiwiyata tingkat nasional,” pungkas Ruli.
Melalui penguatan program Adiwiyata, DLH Kabupaten Bandung mendorong sekolah menjadi salah satu pusat pembentukan karakter peduli lingkungan. Dengan keterlibatan aktif guru, siswa, dan seluruh warga sekolah, kebiasaan menjaga kebersihan, memilah sampah, serta mengolah limbah dapat berkembang menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.