Banjaran, Info Burinyay — Telkom University mengerahkan 365 mahasiswa untuk menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Terpadu berbasis Social Engineering di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Minggu (25 Oktober 2026). Program kolaboratif ini mengajak masyarakat memperkuat pengelolaan sampah dari rumah tangga melalui edukasi, pendataan, pemilahan, dan pendampingan langsung di desa.
Kegiatan tersebut melibatkan Telkom University, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, serta pemerintah daerah. Melalui program ini, mahasiswa membantu mengidentifikasi persoalan persampahan sekaligus merumuskan solusi yang sesuai dengan kondisi masyarakat.
Pada tahap awal, mahasiswa berkumpul di halaman Kantor Kecamatan Banjaran. Selanjutnya, mereka bergerak menuju sembilan desa untuk memulai kegiatan sesuai dengan pembagian lokasi dan agenda pendampingan.
Dosen Pembimbing Lapangan Telkom University, Agus Gandara, SH., MH., M.Pd., menjelaskan bahwa program KKN tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengamati persoalan lingkungan secara langsung. Selain itu, mahasiswa dapat membangun komunikasi dengan pemerintah desa dan warga untuk mencari solusi bersama.
“Kebetulan saya sebagai dosen pembimbing lapangan untuk kegiatan KKN Tematik dari Telkom University di Kecamatan Banjaran. Saya membawa 365 mahasiswa dan Telkom University ada 10 kecamatan di Kabupaten Bandung ini yang melaksanakan kegiatan KKN ini,” kata Agus.
Ia menambahkan, mahasiswa akan berkoordinasi dengan kepala desa dan pendamping kampus selama menjalankan program. DLH Jawa Barat juga ikut mendampingi kegiatan tersebut.
“Intinya bagaimana nanti kita menemukan permasalahan-permasalahan terkait dengan pengelolaan sampah dan kita akan cari solusi terbaik agar permasalahan sampah, khususnya di Kabupaten Bandung, bisa diselesaikan dengan baik,” ujarnya.
Agus berharap mahasiswa mampu mengembangkan kepedulian terhadap persoalan lingkungan melalui pengalaman lapangan. Menurutnya, persoalan sampah membutuhkan keterlibatan semua pihak, bukan hanya pemerintah.
“Mudah-mudahan mahasiswa kita kuat terjun ke lapangan. Ini tentu saja mengajarkan kepedulian kepada mahasiswa kita bahwa sampah ini masalah bersama. Mudah-mudahan ada solusinya tidak hanya untuk Bandung, tidak hanya untuk Jawa Barat, tetapi untuk Indonesia,” tuturnya.
Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat mendukung program tersebut sebagai salah satu upaya mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah. Pendampingan mahasiswa diharapkan membantu warga memahami pentingnya pemilahan sejak dari sumbernya.
Perwakilan DLH Provinsi Jawa Barat, Anggia Sawitri, berharap kegiatan ini berjalan sesuai target dan memberikan dampak nyata terhadap pengurangan timbulan sampah.
“Untuk kami dari DLH, berharap bahwa program ini berjalan lancar dan sesuai dengan target yang diminta. Kemudian, semoga juga bisa mengurangi timbulan sampah yang masuk ke TPA Sarimukti, mengingat TPA Sarimukti ini sudah overload,” kata Anggia.
Ia juga berharap program tersebut dapat membantu memperpanjang masa operasional TPA Sarimukti hingga TPA Legok Nangka mulai beroperasi. Karena itu, keterlibatan mahasiswa dalam edukasi dan pendampingan masyarakat menjadi bagian penting dari upaya pengurangan sampah.
Anggia turut menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar tetap bersemangat selama menjalankan kegiatan. Ia berharap pengalaman tersebut mendorong perubahan positif, baik bagi masyarakat maupun bagi mahasiswa sendiri.
Camat Banjaran, H. Kasta Wiguna, AP., M.Ap., menilai kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menjawab persoalan sampah. Menurutnya, keberhasilan program tidak cukup mengandalkan kegiatan mahasiswa, tetapi juga membutuhkan perubahan kebiasaan warga.
“Harapan besar saya, kolaborasi ini memberikan manfaat buat warga masyarakat, buat pemerintah, karena masalah sampah adalah masalah urusan kita semuanya,” ujar Kasta.
Ia mengajak masyarakat mulai membiasakan pengelolaan sampah dari rumah dan lingkungan masing-masing. Dengan demikian, warga tidak hanya mengandalkan petugas atau pemerintah untuk menyelesaikan persoalan persampahan.
Kasta juga meminta mahasiswa memanfaatkan KKN sebagai sarana memperluas wawasan dan membangun kepekaan sosial. Ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Untuk para mahasiswa, saya berpesan agar kesempatan ini dijadikan sebagai sebuah edukasi. Sebuah edukasi, membuka pikirannya, membuka hatinya, membuka rasanya, karena permasalahan sampah bukan masalah pemerintah saja, tapi masalah setiap manusia yang hidup,” katanya.
Menurut Kasta, penyelesaian persoalan sampah membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Oleh sebab itu, ia berharap mahasiswa mampu menyampaikan edukasi yang mudah dipahami dan mendorong warga melakukan perubahan secara konsisten.
Pendamping mahasiswa Telkom University, Agvin Amalia Nurfitri, Amd.Kom., yang memperkenalkan diri sebagai Alvina Amalia, menjelaskan bahwa kegiatan ini mengusung pendekatan Social Engineering. Program tersebut berkolaborasi dengan DLH Provinsi Jawa Barat dan pemerintah Kabupaten Bandung.
Mahasiswa akan melakukan pendataan terkait sampah dan pemilahan sampah di sejumlah desa di Kecamatan Banjaran. Hasil pendataan tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai kondisi pengelolaan sampah di lapangan sekaligus menjadi bahan untuk menyusun rekomendasi penanganan.
“Program KKN ini berlangsung selama tiga bulan dari Telkom University, tidak menginap, hanya dua kali keberangkatan. Yang pertama hari ini, tanggal 25 Oktober 2024, dan dilanjutkan tahap kedua berkoordinasi langsung dengan warga. Kegiatannya sampai bulan Desember,” kata Agvin.
Meski demikian, terdapat perbedaan tahun dalam keterangan tanggal yang disampaikan Agvin. Penyelenggara perlu mengonfirmasi apakah tanggal keberangkatan tahap pertama merujuk pada 25 Oktober 2026, sesuai waktu pelaksanaan kegiatan.
Sementara itu, pemerintah desa menyambut kegiatan tersebut sebagai kesempatan untuk mencari pendekatan baru dalam menangani persoalan sampah di lingkungan masing-masing.
Penjabat Kepala Desa Sindang Panon, Ahmad Kusnadi, SE., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan KKN Telkom University. Ia berharap kehadiran mahasiswa dapat membantu desa merumuskan solusi yang sesuai dengan kebutuhan warga.
“Saya ucapkan selamat datang untuk mahasiswa KKN dari Telkom University. Kebetulan terkait dengan konsep persampahan, besar harapan kami ini bisa memberikan warna baru untuk penyelesaian permasalahan sampah yang ada di desa kami,” ujar Ahmad.
Ia juga berharap mahasiswa dapat menjalankan tugas dengan lancar dan menghasilkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat Sindang Panon.
Kepala Desa Ciapus, Usep Suhendar, SH., menyambut mahasiswa yang datang untuk memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah. Ia berharap kegiatan tersebut menghasilkan rumusan solusi yang relevan dengan kondisi lingkungan desa.
“Atas nama Pemerintahan Desa Ciapus, selaku Kepala Desa Ciapus, saya mengucapkan selamat datang kepada adik-adik mahasiswa ST Telkom yang telah berkenan memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah di wilayah Desa Ciapus,” kata Usep.
Ia berharap rangkaian kegiatan dapat membantu pemerintah desa menentukan langkah penanganan yang lebih tepat. Usep juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kecamatan Banjaran dan Pemerintah Kabupaten Bandung atas dukungan terhadap program yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
Dari kalangan mahasiswa, Shalsa Aurellia Putri, perwakilan Telkom University, mengapresiasi sambutan pemerintah desa dan warga Ciapus. Ia menjelaskan bahwa timnya akan meneliti sistem pengolahan sampah yang berjalan di desa tersebut.
“Alhamdulillah, terima kasih kepada warga-warga di sekitar, terima kasih kepada Pak Kades juga sudah mengizinkan kami buat survei KKN di Desa Ciapus. Semoga kenang-kenangan dan hasil analisis data yang bakal kita bawa sesuai dan memuaskan hasilnya,” ujar Shalsa.
Ia berharap seluruh rekan mahasiswa tetap bersemangat menjalankan tugas selama program berlangsung.
Program KKN Terpadu ini menempatkan edukasi, pendataan, pemilahan, dan pendampingan masyarakat sebagai bagian penting dari kegiatan mahasiswa. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya mendorong kebiasaan baru dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
Materi program juga menekankan pemetaan kondisi awal, edukasi pemilahan, pencatatan data, serta dokumentasi perubahan selama pendampingan. Mahasiswa dapat memanfaatkan hasil survei dan catatan lapangan untuk menyusun laporan akhir serta rekomendasi berdasarkan kondisi nyata.
Selain menghasilkan kajian, program ini diharapkan mendorong masyarakat mengurangi sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir. Perubahan kebiasaan dari rumah tangga menjadi langkah penting karena pemilahan sejak sumbernya membantu pengelolaan sampah secara lebih terarah.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, Kecamatan Banjaran diharapkan memperoleh gambaran persoalan persampahan yang lebih terukur. Hasil kegiatan juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengembangkan pendekatan serupa di wilayah lain.
Pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pelaksanaan KKN selama tiga bulan. Konsistensi warga dalam memilah sampah, dukungan pemerintah desa, serta tindak lanjut atas hasil pendataan akan menentukan manfaat program dalam jangka panjang.
Karena itu, KKN Telkom University di Banjaran diharapkan tidak berhenti pada kegiatan survei dan edukasi. Program ini perlu mendorong perubahan nyata agar pengelolaan sampah menjadi kebiasaan bersama, sekaligus membantu mengurangi beban tempat pemrosesan akhir di Jawa Barat.