Rancaekek, Info Burinyay – Sebanyak 94 mahasiswa STIE Gema Widya Bangsa mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Social Engineering Tahun 2026 di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Melalui program ini, mahasiswa mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah mulai dari lingkungan rumah tangga.
Pemerintah Kecamatan Rancaekek bersama perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, pemerintah desa, serta civitas akademika STIE Gema Widya Bangsa menggelar pembukaan kegiatan tersebut di GOR Desa Jelegong, Kamis (5/11/2026).
Sebanyak 94 mahasiswa mengikuti program pengabdian masyarakat tersebut. Selanjutnya, panitia membagi mereka ke tiga wilayah desa, yakni Desa Jelegong, Desa Bojongloa, dan Desa Rancaekek Wetan.
Camat Rancaekek, H. Gugum Gumilar, S.STP., M.Si., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi dalam menjalankan program tersebut. Menurutnya, kehadiran mahasiswa dapat memperkuat upaya pemerintah dalam menangani persoalan sampah.
“Pada hari ini, kami Pemerintah Kecamatan melaksanakan penerimaan mahasiswa yang akan mengikuti KKN Tematik Social Engineering. Program ini merupakan prakarsa Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama perguruan tinggi di Jawa Barat,” ujar Gugum.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran civitas akademika STIE Gema Widya Bangsa yang telah berkolaborasi dengan pemerintah kecamatan.
Selain itu, Gugum berharap seluruh mahasiswa dapat menjalankan pengabdian masyarakat dengan lancar hingga program berakhir. Ia juga mengajak seluruh pihak menjaga sinergi agar kegiatan tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Terkait persoalan lingkungan, Gugum menegaskan bahwa pengelolaan sampah menjadi fokus utama KKN Tematik Social Engineering. Sebab, persoalan sampah masih membutuhkan perhatian dan keterlibatan berbagai pihak.
“Semoga kehadiran para mahasiswa dapat menjadi tambahan tenaga bagi pemerintah untuk lebih masif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Khususnya mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari rumah tangga,” katanya.
Sementara itu, perwakilan STIE Gema Widya Bangsa, Iwan Setiawan, S.E., M.M., menjelaskan bahwa program tersebut tidak sekadar menghadirkan mahasiswa di tengah masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan ini menargetkan perubahan kebiasaan warga dalam mengelola sampah sehari-hari.
Menurut Iwan, keluarga menjadi lingkungan pertama yang perlu membangun kesadaran memilah sampah. Karena itu, mahasiswa akan mendorong masyarakat menerapkan kebiasaan tersebut secara konsisten.
“Harapan kami, melalui KKN Tematik Social Engineering ini minimal bisa mengubah perilaku masyarakat dalam pengelolaan dan pemilahan sampah sehari-hari, setidaknya mulai dari tingkat keluarga,” ungkap Iwan.
Selanjutnya, ia berharap program tersebut mampu mengurangi volume sampah yang masyarakat kirim ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Iwan juga berpesan agar seluruh mahasiswa menjalankan tugas pengabdian dengan penuh tanggung jawab. Selain itu, mahasiswa harus mematuhi aturan dan tata tertib yang telah kampus tetapkan selama mengikuti kegiatan KKN.
Pada kesempatan yang sama, Staf DLH Provinsi Jawa Barat, Annisa Maulina, menjelaskan bahwa program KKN Tematik Social Engineering menggabungkan peran pemerintah dan akademisi dalam menangani persoalan sampah.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya memberikan edukasi kepada masyarakat. Mereka juga melakukan pencatatan terhadap sampah yang setiap rumah tangga hasilkan di wilayah Kecamatan Rancaekek.
Menurut Annisa, langkah tersebut penting untuk membantu masyarakat memahami kondisi sampah di lingkungan masing-masing. Dengan demikian, warga dapat mengenali jenis dan jumlah sampah yang mereka hasilkan setiap hari.
“Harapannya, pengolahan sampah bisa selesai dari sumbernya. Jika pengelolaan berjalan mulai dari tingkat rumah tangga, sampah yang masuk ke TPA nantinya hanya sampah residu atau sampah yang tidak memiliki nilai tambah lagi,” jelas Annisa.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai ruang belajar sekaligus pengabdian langsung kepada masyarakat.
Annisa menilai, interaksi dengan warga menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran lingkungan. Terlebih, mahasiswa menjalankan salah satu unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat.
Dukungan terhadap pelaksanaan program juga datang dari Pemerintah Desa Jelegong. Kepala Desa Jelegong, Anen Rumdani, menyambut kehadiran mahasiswa bersama jajaran pemerintah dan unsur akademisi.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Camat Rancaekek, DLH Provinsi Jawa Barat, DLH Kabupaten Bandung, serta STIE Gema Widya Bangsa yang telah memilih wilayahnya sebagai lokasi kegiatan.
“Kami atas nama Pemerintah Desa Jelegong mengucapkan selamat datang kepada Bapak Camat, DLH Provinsi, DLH Kabupaten Bandung, serta STIE Gema Widya Bangsa. Selamat datang di wilayah Desa Jelegong,” tutur Anen.
Ia berharap kegiatan KKN Tematik Social Engineering mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat, khususnya dalam membangun kesadaran dan kebiasaan mengelola sampah.
Dengan demikian, keterlibatan 94 mahasiswa di tiga desa tersebut diharapkan dapat memperkuat gerakan pengurangan sampah dari lingkungan keluarga.
Selain memberikan edukasi, pendataan sampah rumah tangga juga menjadi langkah awal untuk mengenali persoalan lingkungan secara lebih terukur.
Melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat, Kecamatan Rancaekek diharapkan mampu membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah. Pada akhirnya, upaya tersebut dapat mengurangi beban sampah menuju TPA sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.