Rancaekek, Info Burinyay – Pemerintah Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam melalui Apel Siaga Bencana Tingkat Kecamatan Rancaekek, Senin (2/11/2026). Kegiatan ini menitikberatkan pada langkah pencegahan dini, terutama menghadapi ancaman banjir dan angin puting beliung yang berpotensi terjadi saat perubahan cuaca.
Apel gabungan tersebut berlangsung di Lapang Liga, Kelurahan Rancaekek Kencana, Kecamatan Rancaekek. Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur pemerintahan, TNI, Polri, tenaga kesehatan, serta aparatur kewilayahan.
Sejumlah peserta mengikuti apel tersebut. Di antaranya personel Polsek Rancaekek, Koramil Rancaekek, jajaran Kantor Kecamatan Rancaekek, perwakilan tiga puskesmas, Kantor Urusan Agama (KUA), UPT Dalduk PK, satuan kerja pendidikan, para kepala desa dan lurah, serta perwakilan pemerintah desa se-Kecamatan Rancaekek.
Melalui kegiatan ini, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) memperkuat koordinasi lintas sektor. Selain itu, apel menjadi momentum untuk meningkatkan kesiapan personel dalam menghadapi kemungkinan bencana di wilayah Rancaekek.
Camat Rancaekek, H. Gugum Gumbira, S.STP., M.Si., melalui Sekretaris Kecamatan Rancaekek, Rukman Rukmansyah, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan dan penguatan kesiapsiagaan bersama.
Menurut Rukman, koordinasi Forkopimcam menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana. Terlebih, wilayah Rancaekek memiliki kerawanan terhadap banjir dan angin puting beliung.
“Upaya pembinaan ini alhamdulillah sudah dilaksanakan bersama Forkopimcam Kecamatan Rancaekek. Di sini kami menekankan kesiapsiagaan dan pencegahan dini bencana alam, terutama banjir dan puting beliung,” ujar Rukman.
Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur pendukung. Kehadiran perwakilan puskesmas, BPBD, PUTR, serta jajaran perangkat kecamatan memperkuat koordinasi dalam menghadapi potensi keadaan darurat.
Selain kesiapan aparatur, Rukman menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengurangi risiko bencana. Menurutnya, warga perlu mempersiapkan kebutuhan darurat sejak dini.
Salah satu langkah yang ia anjurkan ialah menyiapkan tas siaga bencana. Tas tersebut dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan dasar ketika situasi darurat mengharuskan mereka meninggalkan rumah.
“Alangkah baiknya masyarakat mempersiapkan tas bencana. Yang kedua, menjaga lingkungan dan kebersihan. Kemudian, jangan membuang sampah sembarangan karena hal itu dapat mengakibatkan banjir,” tegasnya.
Imbauan tersebut juga berkaitan dengan kondisi saluran air dan drainase lingkungan. Sebab, tumpukan sampah dapat menghambat aliran air, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Sementara itu, Kapolsek Rancaekek, AKP Budi Wardana, S.Pd., menegaskan pentingnya kolaborasi aparat kepolisian, pemerintah desa, dan masyarakat dalam membangun budaya tanggap bencana.
Ia meminta jajaran Bhabinkamtibmas terus berkoordinasi dengan Babinsa serta para kepala desa. Melalui komunikasi langsung, petugas dapat menyampaikan edukasi mengenai kebersihan lingkungan dan langkah pencegahan banjir kepada warga.
“Kami akan menekankan kepada Bhabinkamtibmas untuk selalu berkolaborasi dengan Babinsa dan para kepala desa. Mereka perlu terus mengimbau serta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kebersihan lingkungan,” kata Budi.
Selain edukasi, ia mendorong masyarakat menghidupkan kembali kegiatan gotong royong. Warga dapat membersihkan sampah di gorong-gorong, saluran air, dan titik drainase yang berpotensi tersumbat.
Menurutnya, kegiatan tersebut sebaiknya berlangsung secara rutin. Bahkan, masyarakat dapat memanfaatkan hari Minggu sebagai momentum kerja bakti bersama. Dengan demikian, kebersihan lingkungan tetap terjaga dan potensi penyumbatan saluran air dapat ditekan.
Budi juga menekankan pentingnya tindakan preventif dan preemtif. Kedua pendekatan tersebut perlu mendapat prioritas agar aparat bersama masyarakat dapat mengantisipasi potensi gangguan sebelum berkembang menjadi keadaan darurat.
Terkait kesiapan menghadapi bencana ke depan, Budi mengakui bahwa Rancaekek termasuk wilayah yang memiliki potensi banjir. Meskipun kejadian banjir tidak berlangsung setiap hari, kewaspadaan tetap diperlukan karena wilayah tersebut masih menghadapi risiko banjir pada periode tertentu.
“Rancaekek merupakan daerah banjir. Memang tidak setiap hari, bahkan dalam setahun bisa satu atau dua kali. Namun, kami tetap mengantisipasi dengan peralatan yang ada, termasuk melalui kolaborasi Forkopimcam yang sudah kami siapkan,” ungkapnya.
Karena itu, kesiapan personel dan peralatan menjadi bagian penting dalam menghadapi situasi darurat. Koordinasi lintas sektor juga perlu berjalan secara berkelanjutan agar setiap unsur memahami peran dan tanggung jawabnya.
Apel Siaga Bencana Kecamatan Rancaekek ini menegaskan bahwa penanggulangan bencana tidak hanya bergantung pada kesiapan pemerintah dan aparat. Sebaliknya, kesadaran masyarakat memegang peranan penting dalam mengurangi risiko bencana sejak tingkat lingkungan.
Melalui penguatan koordinasi, edukasi kebencanaan, kesiapan peralatan, serta budaya gotong royong, seluruh unsur di Kecamatan Rancaekek diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana alam.
Dengan demikian, langkah pencegahan tidak berhenti pada pelaksanaan apel. Namun, seluruh pihak perlu menerapkannya secara konsisten melalui tindakan nyata di lingkungan masing-masing.