25.6 C
Bandung
Senin, Okt 5, 2026
Info Burinyay
Jawa Barat

Getah Pinus Sumbang 67 Persen Pendapatan Perum Perhutani Jabar-Banten

Trisna Muliana ungkap getah pinus sumbang 67 persen pendapatan Perhutani Jabar-Banten
Kasi Utama HHBK Divre Jabar-Banten Trisna Muliana saat menyampaikan keterangan terkait kontribusi getah pinus kepada Info Burinyay, Senin (5/10/2026). Foto:Info Burinyay/Lee

Rancabali Info Burinyay – Getah pinus menjadi sumber utama pendapatan Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Banten. Komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) itu menyumbang sekitar 67 persen pendapatan Divre Jabar-Banten.

Kasi Utama HHBK Divre Jabar-Banten, Trisna Muliana, menjelaskan dua bidang utama bisnis Perum Perhutani. Perusahaan menjalankan bisnis kayu serta HHBK.

“Core business perusahaan di Perum Perhutani ini ada dua yang paling besar, yaitu kayu dan HHBK atau Hasil Hutan Bukan Kayu,” ujar Trisna kepada Info Burinyay, Senin (5/10/2026).

Menurut Trisna, getah pinus menjadi komoditas paling besar dalam sektor HHBK. Perhutani juga mengembangkan kopal dari pohon damar dan daun kayu putih.

“Yang paling terbesar adalah getah pinus. Kemudian kami juga mengelola kopal, getah dari pohon damar, dan juga daun kayu putih,” katanya.

Kontribusi getah pinus mencapai sekitar 67 persen dari pendapatan Divre Jabar-Banten. Kayu, HHBK lain, agro, dan wisata menyumbang bagian pendapatan lainnya.

“Sekitar 67 persen pendapatan Divre Jawa Barat dan Banten berasal dari getah pinus,” ujar Trisna.

Besarnya kontribusi tersebut berkaitan dengan luas areal pinus yang siap menghasilkan getah. Perhutani mencatat sekitar 32.584 hektare tegakan pinus siap sadap di Jawa Barat dan Banten.

Divre Jabar-Banten mengelola 14 Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH). Sebanyak 13 KPH memiliki tegakan pinus yang siap mendukung produksi HHBK.

“Dari 14 KPH yang dimiliki Jabar dan Banten, hanya 13 KPH yang memiliki tegakan pinus,” kata Trisna.

KPH Sukabumi memiliki areal pinus paling luas. Selanjutnya, terdapat KPH Bandung Selatan, KPH Cianjur, KPH Garut, KPH Sumedang, dan KPH Tasikmalaya.

Dalam proses produksi, Perhutani mengambil getah tanpa menebang pohon pinus. Perusahaan pernah menguji tiga teknik penyadapan, yakni kuare, bor, dan rill.

“Ada tiga sebetulnya yang pernah kita coba metode sadapan getah pinus. Yang pertama kuare, yang kedua adalah bor, dan ketiga rill,” ujar Trisna.

Setelah melalui pengujian, Perhutani memilih metode kuare. Perusahaan kini memakai teknik tersebut dalam penyadapan getah pinus.

“Kalau sampai saat ini Perum Perhutani menggunakan metode kuare,” katanya.

Teknik penyadapan menjadi salah satu faktor internal yang menentukan produktivitas. Selain itu, kondisi iklim turut menentukan hasil produksi getah setiap tahun.

Secara nasional, Jawa Tengah mencatat produksi getah pinus sekitar 39.000 ton per tahun. Jawa Timur menyusul dengan produksi sekitar 29.000 ton per tahun.

Sementara itu, Jawa Barat menghasilkan sekitar 19.000 ton getah pinus setiap tahun.

Trisna menjelaskan bahwa produktivitas getah bergantung pada faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup pengelolaan hutan serta teknik penyadapan.

Namun, iklim menjadi faktor eksternal yang sangat menentukan hasil produksi. Perubahan musim dapat memengaruhi jumlah getah yang keluar dari pohon.

“Yang paling memengaruhi adalah iklim,” kata Trisna.

Kemarau panjang cenderung meningkatkan produktivitas getah pinus. Sebaliknya, musim hujan yang lebih panjang dapat menurunkan hasil penyadapan.

“Ketika kemarau panjang terjadi dalam satu tahun, produktivitas getah pinus akan meningkat,” ujarnya.

Perhutani menjalankan kegiatan penyadapan sebagai bagian dari pengelolaan sektor hulu. Divre Jabar-Banten menangani produksi getah sebelum memasuki tahap industri.

“Kalau saya terutama di Divre Jawa Barat dan Banten adalah salah satu pengelola hulu. Jadi kita memproduksi, menyadap, dan menghasilkan getah,” jelas Trisna.

Setelah itu, Perhutani mengirim getah menuju fasilitas industri untuk proses pengolahan. Industri Perum Perhutani mengolah getah pinus menjadi gondorukem dan terpentin.

Di Jawa Barat, Perhutani menjalankan pengolahan melalui fasilitas industri di kawasan Nagreg dan Sindangwangi.

Hasil pengolahan kemudian masuk ke pasar ekspor dan domestik. Sekitar 70 persen produk Perhutani menyasar pasar luar negeri, sedangkan 30 persen masuk pasar dalam negeri.

“70 persen kita ekspor. Dan 30 persen ada di pasar domestik,” kata Trisna.

Gondorukem dan terpentin juga mendukung kebutuhan berbagai sektor industri. Produk tersebut berkaitan dengan industri plastik, ban, poliester, dan kosmetik.

“Industri plastik, ban, poliester, kosmetik itu sangat dipengaruhi atau tergantung pada ketersediaan terpentin dan gondorukem,” ujar Trisna.

Menurut Trisna, industri tidak selalu menjadikan gondorukem dan terpentin sebagai bahan utama. Banyak industri memanfaatkan kedua produk tersebut sebagai katalis atau bahan pendukung proses produksi.

Karena itu, Perhutani melihat peluang besar untuk memperluas portofolio HHBK. Perusahaan tidak ingin hanya mengandalkan getah pinus sebagai sumber pendapatan.

Trisna menyebut damar dan kemenyan sebagai dua komoditas yang memiliki peluang pengembangan. Perluasan tersebut dapat memperkuat bisnis HHBK Perum Perhutani.

“Harapannya portofolio bisnis nanti Perum Perhutani mengangkat hasil hutan non kayu. Karena tidak hanya getah pinus, Pak, ada beberapa spesies pohon yang juga bisa menghasilkan getahnya,” ujar Trisna.

Pengembangan HHBK juga membuka ruang bagi keseimbangan ekonomi dan ekologi. Perhutani dapat mengambil hasil getah tanpa menebang pohon.

“Harapannya ketika getah kita bisa manfaatkan tetapi pohon tidak bisa ditebang, aspek ekologi dan ekonomi akan seimbang,” katanya.

Selain membahas potensi ekonomi, Trisna menjelaskan karakter kawasan hutan Perhutani. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki karakter hutan sekunder.

Perhutani menjalankan penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan dalam pengelolaan kawasan hutan produksi. Kondisi itu berbeda dengan hutan primer yang masih mempertahankan struktur alami secara lebih utuh.

Sementara itu, kawasan konservasi dan taman nasional banyak mempertahankan karakter hutan primer. Perhutani menjalankan pola pengelolaan hutan produksi pada wilayah kerjanya.

Ekosistem dengan kelembapan tinggi juga mendukung berbagai jenis tumbuhan. Vegetasi tersebut mencakup pohon keras, tanaman perdu, tumbuhan bawah, serta tanaman epifit.

Trisna mencontohkan kadaka sebagai salah satu tanaman epifit. Tanaman tersebut tumbuh pada pohon inang di kawasan hutan dengan tingkat kelembapan tinggi.

“Kadaka atau jenis-jenis epifit tersebut menempel pada pohon-pohon inang,” ujar Trisna.

Dengan luas sekitar 32.584 hektare, tegakan pinus memiliki posisi strategis bagi Divre Jabar-Banten. Kontribusi sekitar 67 persen juga memperkuat posisi getah pinus dalam bisnis Perum Perhutani.

Di sisi lain, Perhutani memiliki peluang mengembangkan damar, kemenyan, dan komoditas HHBK lainnya. Strategi tersebut dapat memperkuat ekonomi hutan sekaligus menjaga keberadaan tegakan.

Pengelolaan HHBK akhirnya mempertemukan kepentingan ekonomi dan ekologi. Perhutani memperoleh nilai ekonomi dari hasil hutan sambil menjaga keberadaan pohon.

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.